;
Tampilkan postingan dengan label Ekonomi Bisnis. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ekonomi Bisnis. Tampilkan semua postingan

Jumat, 01 Juli 2011

Cadangan Devisa RI Juni 2011

Bank Indonesia (BI) mencatat cadangan devisa RI pada pekan ketiga Juni 2011 telah mencapai US$ 119 miliar. Angka tersebut berarti naik sekitar US$ 1 miliar lagi dari akhir Mei 2011 yang sebesar US$ 118 miliar.

"Cadangan devisa itu mencapai US$ 119 miliar. Itu sementara angka terakhir 10 hari yang lalu," ujar Gubernur Bank Indonesia (BI) Darmin Nasution ketika ditemui di sela HUT BI ke-58 di Gedung BI, Jalan MH Thamrin, Jakarta, Jumat (1/7/2011).

Dijelaskan Darmin kenaikan cadangan devisa RI dikarenakan aliran modal asing alias capital inflow yang masih membanjiri RI walaupun belakangan agak mereda karena kepastian Quantitative Easing di AS. Selain itu, sambung Darmin masih belum pastinya tingkat pengangguran di AS membuat investor masih lari ke negara berkembang termasuk Indonesia.

"Bagaimanapun dipengaruhi oleh perekonomian AS dengan Quantitative Easing-nya, nah ini agak mengurangi tekanan terhadap capital inflow. Tetapi perbedaan pertumbuhan dan imbal hasil di sini masih tetap lebih baik dari yang diharapkan di negara-negara maju yang mau tidak mau capital inflow masih terjadi. Tetapi saya perkirakan tidak sebesar semester satu yang lalu," terangnya.

Cadangan devisa RI memang terus menggelembung. Sebelumnya BI mencatat dalam dua pekan cadangan devisa RI meningkat US$ 1 miliar, dari US$ 115,8 miliar per 6 Mei 2011 menjadi US$ 116,5 miliar per 20 Mei 2011.

Kemudian BI mencatat cadangan devisa RI per akhir Mei 2011 telah mencapai US$ 118 miliar. Angka tersebut berarti naik sebesar US$ 1,5 miliar dalam 10 hari.

Berikut perkembangan cadangan devisa RI sepanjang 2011:
  • 31 Januari 2011: US$ 95,3 milliar
  • 22 Februari 2011: US 97 miliar
  • 18 Maret 2011: US$ 103,3 miliar.
  • Akhir Maret 2011: US$ 105,7 miliar.
  • Awal Mei 2011: US$ 116,5 miliar.

Selasa, 21 Juni 2011

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) 21 Juni 2011 Naik 65 Poin

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melesat 65 poin dan hampir kembali menyentuh level 3.800 didorong menguatnya bursa-bursa regional. Sebanyak 229 saham menguat dipimpin saham-saham komoditas.

Sementara nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup menguat tipis di Rp 8.595 per dolar AS dibandingkan penutupan perdagangan kemarin di Rp 8.615 per dolar AS.

Membuka perdagangan pagi tadi, IHSG menguat 14,521 poin (0,38%) ke level 3.743,643 atas bantuan bursa-bursa Asia yang mulai pulih setelah bursa Wall Street naik tipis.

Pergerakan IHSG sangat mulus di zona hijau sejak dibukanya perdagangan. Aksi beli selektif yang dilakukan investor mendorong laju IHSG.

Pada penutupan perdagangan sesi I, IHSG menanjak 31,102 poin (0,83%) ke level 3.760,224. Investor masih berhati-hati untuk memasukkan dananya ke pasar modal dengan segala ketidakpastian di ekonomi global.

Indeks menanjak semakin tinggi atas perburuan saham-saham unggulan. Posisi tertingginya yang bisa diraih IHSG pada perdagangan hari ini di level 3.797,563 sebelum penutupan perdagangan.

Menutup perdagangan, Selasa (21/6/2011), IHSG melompat 65,817 poin (1,76%) ke level 3.794,939. Sementara Indeks LQ 45 melesat 10,524 poin (1,59%) ke level 670,838.

Saham-saham berbasis komoditas menjadi incaran setelah kekhawatiran krisi utang Yunani mulai mereda. Indeks sektor agri dan tambang memimpin naiknya bursa dengan penguatan lebih dari 3%.

Dana asing pun kembali parkir di pasar modal dengan jumlah yang cukup tinggi. Transaksi investor asing tercatat melakukan pembelian bersih (foreign net buy) senilai Rp 358,248 miliar di seluruh pasar.

Perdagangan berjalan moderat dengan frekuensi transaksi mencapai 111.298 kali pada volume 2,022 miliar lembar saham senilai Rp 3,858 triliun. Sebanyak 229 saham naik, 40 saham turun, dan 59 saham stagnan.

Krisis utang Yunani yang mulai mereda serta menguatnya Wall Street semalam dimanfaatkan investor regional untuk mengoleksi saham. Bursa saham China mencatat kenaikan tertinggi pekan ini atas penguatam saham-saham properti.

Bursa-bursa Asia lainnya melaju semakin kencang zona hijau. Bursa Jepang juga mampu menguat meski data ekspor menunjukkan penurunan selama tiga bulan berturut-turut.

Berikut situasi bursa-bursa regional di sore ini:


  • Indeks Komposit Shanghai melesat 26,43 poin (1,01%) ke level 2.647,68.  
  • Indeks Hang Seng menanjak 251,08 poin (1,16%) ke level 21.850,59.  
  • Indeks Nikkei 225 menguat 105,34 poin (1,13%) ke level 9.459,66.
  • Indeks Straits Times melonjak 47,40 poin (1,57%) ke level 3.061,00.  
Saham-saham yang naik signifikan dan masuk dalam jajaran top gainers diantaranya Bayan (BYAN) naik Rp 1.650 ke Rp 22.750, Multibreeder (MBAI) naik Rp 1.300 ke Rp 27.200, Gudang Garam (GGRM) naik Rp 1.300, dan Indo Tambangraya (ITMG) naik Rp 750 ke Rp 45.250.

Sementara saham-saham yang turun cukup dalam dan masuk dalam kategori top losers antara lain Multi Bintang (MLBI) turun Rp 1.000 ke Rp 369.000, Dian Swastatika (DSSA) turun Rp 750 ke Rp 15.250, Fast Food (FAST) turun Rp 200 ke Rp 9.800, dan Bank Mayapada (MAYA) turun Rp 150 ke Rp 750.

Kamis, 16 Juni 2011

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) 16 Juni 2011

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) jatuh semakin dalam dan ditutup turun 53 poin akibat maraknya sentimen negatif yang beredar, seperti kekhawatiran krisis utang Yunani.

Sementara nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup anjlok ke Rp 8.603 per dolar AS dibandingkan penutupan kemarin di Rp 8.550 per dolar AS.

Mengawali perdagangan pagi tadi, IHSG dibuka terpangkas 25,931 poin (0,69%) ke level 3.768,320 akibat dihantui banyaknya sentimen negatif, mulai dari melemahnya bursa Asia dan global, sampai krisis utang Yunani yang semakin menjadi-jadi.

Indeks sama sekali tak mampu bergerak ke atas akibat berbagai sentimen negatif tersebut. Indeks secara perlahan jatuh semakin dalam.

Pada penutupan perdagangan sesi I, IHSG terkoreksi 34,543 poin (0,92%) ke level 3,759,708 setelah saham-saham unggulan terkena tekanan jual. Saham berbasis agrikultur dan pertambangan jadi korban profit taking.

Sentimen positif semakin langka pada perdagangan hari ini, hampir seluruh sentimen yang beredar berbau neagtif. IHSG semakin tertekan dan jatuh ke posisi terendahnya di level 3.720,788.

Mengakhiri perdagangan, Kamis (16/6/2011), IHSG ditutup jatuh 53,780 poin (1,42%) ke level 3.740,471. Sementara Indeks LQ 45 ditutup anjlok 10,250 poin (1,52%) ke level 661,912.

Saham-saham komoditas, berbasis agrikultur dan pertambangan menjadi yang paling banyak terkena tekanan jual, indeksnya masing-masing melemah lebih dari dua persen. Tak satu pun sektor yang bisa menguat.

Perdagangan berjalan moderat dengan frekuensi transaksi mencapai 92.777 kali pada volume 5,294 miliar lembar saham senilai Rp 4,235 triliun. Sebanyak 33 saham naik, 234 saham turun, dan 59 saham stagnan.

Investor asing mulai lakukan profit taking setelah tadi pagi mengakumulasi saham. Pemodal asing terpantau melakukan penjualan bersih (foreign net sell) senilai Rp 166,307 miliar di seluruh pasar.

Bursa-bursa regional berguguran dengan koreksi yang signifikan kekhawatiran krisis utang Yunani dan lemahnya data ekonomi AS menyebabkan Wall Street ditutup negatif lebih dari 1 persen semalam. Seluruhnya mengalami koreksi lebih dari 1%.

Berikut kondisi bursa-bursa si Asia sore hari ini:


  • Indeks Komposit Shanghai jatuh 41,01 poin (1,52%) ke level 2.664,42.
  • Indeks Hang Seng ambruk 390,66 poin (1,75%) ke level 21.953,11.  
  • Indeks Nikkei 225 anjlok 163,04 poin (1,70%) ke level 9.411,28.  
  • Indeks Straits Times terpangkas 34,45 poin (1,13%) ke level 3.020,37.  
Saham-saham yang naik signifikan dan masuk dalam jajaran top gainers diantaranya Multibreeder (MBAI) naik Rp 700 ke Rp 25.700, Roda Vivatex (RDTX) naik Rp 500 ke Rp 4.500, Lionmesh (LMSH) naik Rp 350 ke Rp 5.800, dan Semen Gresik (SMGR) naik Rp 200 ke Rp 9.600.

Sementara saham-saham yang turun cukup dalam dan masuk dalam kategori top losers antara lain Delta Jakarta (DLTA) turun Rp 5.000 ke Rp 120.000, Dian Swastatika (DSSA) turun Rp 1.200 ke Rp 14.800, Indo Tambangraya (ITMG) turun Rp 1.000 ke Rp 45.400, dan Merck (MERK) turun Rp 1.000 ke Rp 118.000.

Rabu, 15 Juni 2011

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) 15 Juni 2011

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) gagal bertahan di level 3.800 tergerus oleh sentimen negatif pelemahan bursa-bursa regional. IHSG hanya bisa menguat tipis dalam volume perdagangan yang tidak terlalu besar.

Mengawali perdagangan, IHSG sudah langsung menguat mengikuti lonjakan yang terjadi di bursa Wall Street sebelumnya. IHSG bahkan sudah kembali ke level 3.800 dalam beberapa menit awal perdagangan. Tercatat IHSG dibuka menguat 12,004 poin (0,32%) ke level 3.785,277. Indeks LQ 45 juga menguat 2,922 poin (0,44%) ke level 670,632.

Hingga sesi I berakhir, IHSG masih bertahan di level 3.800, namun memasuki sesi II, kekuatan IHSG mulai berkurang. Penguatan IHSG tergerus oleh koreksi pada sebagian besar saham-saham sektor pertambangan.

Pada perdagangan Rabu (15/6/2011), IHSG ditutup menguat 20,978 poin (0,56%) ke level 3.794,251. Indeks LQ 45 juga menguat 4,452 poin (0,67%) ke level 672,162.

Perdagangan berjalan moderat dengan transaksi di seluruh pasar mencapai 100.248 kali pada volume 4.212 juta lembar saham senilai Rp 3,644 triliun. Sebanyak 121 saham naik, 98 saham turun dan 88 saham stagnan.

Saham-saham yang naik harganya di top gainer antara lain Astra International (ASII) naik Rp 1.650 menjadi Rp 59.000, BRI (BBRI) naik Rp 100 menjadi Rp 6.400, BCA (BBCA) naik Rp 150 menjadi Rp 7.150, XL Axiata (EXCL) naik Rp 200 menjadi Rp 6.200, Semen Gresik (SMGR) naik Rp 200 menjadi Rp 9.400.

Sedangkan saham-saham yang turun harganya (top loser) antara lain Bumi Resources (BUMI) turun Rp 50 menjadi Rp 3.275, Telkom (TLKM) turun Rp 50 menjadi Rp 7.250, Borneo Lumbung Energi (BORN) turun Rp 20 menjadi Rp 1.530.

Bursa-bursa Asia cukup variatif. Bursa China dan Hong Kong mengalami koreksi yang cukup dalam setelah Gubernur Bank Sentral China menaikkan Giro Wajib Minimum (GWM) sebesar 50 basis poin.
  • Indeks Komposit Shanghai melemah 24,61 poin (0,90%) ke level 2.705,43.
  • Indeks Hang Seng melemah 152,23 poin (0,68%) ke level 22.343,77.
  • Indeks Nikkei-225 menguat 26,53 poin (0,28%) ke level 9.574,32.

Senin, 13 Juni 2011

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) 13 Juni 2011

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) akhirnya terpangkas 38 poin akibat kekhawatiran melambatnya perekonomian global sehingga investor mengamankan portofolionya.

Sementara nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup melemah di posisi Rp 8.540 per dolar AS dibandingkan penutupan akhir pekan lalu di Rp 8.520 per dolar AS.

Mengawali perdagangan awal pekan pagi tadi, IHSG dibuka jatuh 13,660 poin (0,37%) ke level 3,773,98 seiring koreksi yang terjadi di seluruh bursa-bursa Asia. Indeks semakin jauh meninggalkan level 3.800.

Semakin lama, indeks jatuh semakin dalam karena tidak ada bantalan sentimen positif yang bisa menahan jatuhnya bursa. Posisi terendahnya yang diderita IHSG hari ini di level 3.728,402.

Pada penutupan perdagangan sesi I, IHSG jatuh 55,774 poin (1,48%) ke level 3.731,874. Investor mengamankan portofolio investasinya dengan melepas saham-saham unggulan sehingga banyak

Meski sudah berhasil menahan laju jatuhnya, IHSG belum mampu balik ke jalur hijau. Aksi beli jelang penutupan pun tak memberikan hasil yang signifikan.

Mengakhiri perdagangan awal pekan, Senin (13/6/2011), IHSG ditutup terpangkas 38,890 poin (1,02%) ke level 3.748,758. Sementara Indeks LQ 45 berkurang 6,861 poin (1,02%) ke level 663,205.

Saham-saham komoditas menjadi yang paling banyak terkena tekanan jual pada perdagangan hari ini. Aksi jual juga diderita oleh saham-saham lapis dua.

Kekhawatiran melambatnya ekonomi dunia menjadi sentimen yang sangat ditakuti investor. Meski tidak besar, dana asing kembali keluar dari bursa, transaksi asing tercatat melakukan penjualan bersih (foreign net sell) senilai Rp 55,008 miliar di seluruh pasar.

Aksi beli di menit-menit terakhir perdagangan hanya mampu mengangkat indeks sektor infrastruktur menguat tipis. Sektor lainnya masih 'terbakar'.

Perdagangan berjalan moderat dengan frekuensi transaksi mencapai 108.299 kali pada volume 5,815 miliar lembar saham senilai Rp 3,936 triliun. Sebanyak 37 saham naik, 211 saham turun, dan 75 saham stagnan.

Bursa Hong Kong menjadi satu-satunya bursa di Asia yang menguat didorong saham perbankan dan utilitis, sementara lainnya masih terpuruk di zona merah.

Bursa saham China ditutup melemah karena kekhawatiran akan berlanjutnya tekanan likuiditas dalam beberapa bulan ke depan setelah data menunjukkan pertumbuhan suplai uang negara melambat di Mei.

Berikut situasi di bursa-bursa regional sore hari ini:
  • Indeks Komposit Shanghai melemah 4,45 poin (0,16%) ke level 2.700,70.  
  • Indeks Hang Seng menguat 87,71 poin (0,39%) ke level 22.508,08.  
  • Indeks Nikkei 225 anjlok 66,23 poin (0,70%) ke level 9.448,21.  
  • Indeks Straits Times turun 11,78 poin (0,38%) ke level 3.066,57.  
Saham-saham yang naik signifikan dan masuk dalam jajaran top gainers diantaranya Multi Bintang (MLBI) naik Rp 5.000 ke Rp 360.000, Japfa (JPFA) naik Rp 175 ke Rp 4.500, Axiata (EXCL) naik Rp 150 ke Rp 5.950, dan Colorpak (CLPI) naik Rp 140 ke Rp 1.390.

Sementara saham-saham yang turun cukup dalam dan masuk dalam kategori top losers antara lain Taisho (SQBI) turun Rp 5.000 ke Rp 125.000, Gudang Garam (GGRM) turun Rp 1.600 ke Rp 43.750, Astra Internasional (ASII) turun Rp 1.050 ke Rp 56.400, dan HM Sampoerna (HMSP) turun Rp 950 ke Rp 28.250.

Selasa, 31 Mei 2011

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) 31 Mei 2011

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) hanya mampu naik tipis 10 poin di tengah lonjakan bursa-bursa Asia yang rata-rata menguat hingga lebih dari 1%. Profit taking di saham-saham unggulan membuat laju indeks terhambat.

Sementara nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup menguat di Rp 8.540 per dolar AS dibandingkan penutupan kemarin di Rp 8.545 per dolar AS.

Membuka perdagangan pagi tadi, IHSG menguat 12,296 poin (0,32%) ke level 3.838,433. Indeks terbantu bursa-bursa Asia yang menghijau di pagi hari tadi.

Setelah naik cukup tinggi, IHSG langsung ambles ke zona merah akibat profit taking. Kemudian indeks berfluktuatif dan bergerak di antara zona merah dan hijau.

Pada penutupan perdagangan sesi I, IHSG menipis 2,683 poin (0,08%) ke level 3.823,545. Investor masih lakukan aksi tunggu menanti keluarnya data inflasi besok.

Indeks menembus posisi tertingginya di 3.840,353 akibat lonjakan bursa-bursa regional. Namun, aksi ambil untung masih menghadang sehingga pergerakan IHSG kembali fluktuatif.

Menutup perdagangan, Selasa (31/5/2011), IHSG naik tipis 10,830 poin (0,28%) ke level 3.836,967. Sementara Indeks LQ 45 menguat tipis 1,571 poin (0,23%) ke level 682,254.

Sektor properti dan perdagangan menjadi pemimpin penguatan bursa. Namun aksi ambil untung di saham-saham finansial dan tambang menahan laju bursa.

Perdagangan pun berjalan ramai dengan frekuensi transaksi mencapai 139.783 kali pada volume 3,937 miliar lembar saham senilai Rp 7,293 triliun. Sebanyak 79 saham naik, 108 saham turun, dan 119 saham stagnan.

Transaksi investor asing tercatat melakukan pembelian bersih (foreign net buy) senilai Rp 237,687 miliar di pasar reguler dan negosiasi.

Bursa China akhirnya menguat setelah tujuh hari berturut-turut melemah, saham Huaneng Power International Inc mencetak penguatan terbanyak setelah isu harga energi akan naik.

Penguatan bursa regional masih dipimpin oleh bursa Jepang yang melesat cukup tinggi setelah nilai tukar yen menurun di tengah optimisme Uni Eropa yang akan meringankan krisis utang.

Berikut kondisi bursa-bursa di Asia sore hari ini:


  • Indeks Komposit Shanghai melesat 37,35 poin (1,38%) ke level 2.743,72.  
  • Indeks Hang Seng melompat 499,81 poin (2,16%) ke level 23.684,13.  
  • Indeks Nikkei 225 menanjak 188,76 poin (1,99%) ke level 9.693,73.
  • Indeks Straits Times menguat 20,10 poin (0,64%) ke level 3.160,70.  
Saham-saham yang naik signifikan dan masuk dalam jajaran top gainers diantaranya Multibreeder (MBAI) naik Rp 2.200 ke Rp 26.900, Merck (MERK) naik Rp 500 ke Rp 101.000, Astra Agro (AALI) naik Rp 500 ke Rp 23.600, dan Japfa (JPFA) naik Rp 325 ke Rp 4.175.

Sementara saham-saham yang turun cukup dalam dan masuk dalam kategori top losers antara lain Delta Jakarta (DLTA) turun Rp 1.500 ke Rp 115.000, Petrosea (PTRO) turun Rp 1.000 ke Rp 40.500, Indo Tambangraya (ITMG) turun Rp 650 ke Rp 47.000, dan Sarana Menara (TOWR) turun 500 ke Rp 10.400.

Senin, 30 Mei 2011

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) 30 Mei 2011

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menutup perdagangan awal pekan dengan terkoreksi tipis 6 poin akibat profit taking di saham-saham komoditas.

Sementara nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup menguat tipis di posisi Rp 8.550 per dolar AS dibandingkan penutupan akhir pekan lalu di Rp 8.565 per dolar AS.

Mengawali perdagangan pagi tadi, IHSG tercatat naik tipis 1,865 poin (0,05%) ke level 3.834,243. Namun penguatan IHSG tidak bertahan lama karena dalam 5 menit pertama, IHSG sudah bercokol di teritori negatif.

Sebelum jatuh, IHSG masih bisa menyentuh level tertingginya di 3.836,866, dan tak lama setelah itu langsung ambruk ke zona merah.

Pada penutupan perdagangan sesi I, IHSG turun tipis 2,723 poin (0,07%) ke level 3.829,655. Indeks bergerak serba tipis di tengah perdagangan yang tidak terlalu ramai.

Sepanjang perdagangan sesi II, pergerakan IHSG kebanyakan di zona merah. Profit taking terjadi di saham-saham komoditas yang memang sudah menguat cukup tinggi pada perdagangan sebelumnya.

Mengakhiri perdagangan, Senin (30/5/2011), IHSG ditutup melemah tipis 6,241 poin (0,17%) ke level 3.826,137. Sementara Indeks LQ 45 ditutup turun tipis 0,612 poin (0,09%) ke level 680,683.

Sebelum penutupan, indeks sempat jatuh ke posisi terendahnya di 3.813,662. Namun perburuan atas saham-saham bank menahan laju penguatan indeks menjadi tidak terlalu dalam.

Suasana perdagangan di lantai bursa tidak terlalu ramai, terlihat dari pergerakan IHSG yang serba tipis. Namun demikian, volume transaksi naik tinggi akibat adanya transaksi pelepasan saham Harum Energy (HRUM) oleh Kiki Barki yang difasilitasi Deutche (DB) dan Macquarie (RX) senilai Rp 2,4 triliun.

Perdagangan berjalan moderat dengan frekuensi transaksi mencapai 80.780 kali pada volume 5,186 miliar lembar saham senilai Rp 6,967 triliun. Sebanyak 90 saham naik, 142 saham turun, dan 102 saham stagnan.

Transaksi investor asing tercatat melakukan pembelian bersih (foreign net buy) tipis senilai Rp 9,812 miliar di pasar negosiasi dan pasar reguler.

Bursa-bursa di regional bergerak mixed hingga sore hari ini dengan pergerakan yang serba tipis. Bursa China melemah untuk hari kedelapannya secara berturut-turut.

Koreksi ini merupakan yang terpanjang sejak Desember 2008. Melemahnya bursa China dipicu oleh kekhawatiran terhadap naiknya suku bunga, pajak properti serta defisit energi yang akan memangkas kapasitas produksi.

Berikut situasi di bursa-bursa Asia hingga sore ini:


  • Indeks Komposit Shanghai turun tipis 3,83 poin (0,14%) ke level 2.706,12.  
  • Indeks Hang Seng menguat tipis 66,25 poin (0,29%) ke level 23.184,32.  
  • Indeks Nikkei 225 melemah tipis 16,97 poin (0,18%) ke level 9.504,97.  
  • Indeks Straits Times naik tipis 7,98 poin (0,25%) ke level 3.143,50.  

Saham-saham yang naik signifikan dan masuk dalam jajaran top gainers diantaranya Dian Swastatika (DSSA) naik Rp 800 ke Rp 17.150, Petrosea (PTRO) naik Rp 500 ke Rp 41.500, United Tractor (UNTR) naik Rp 350 ke Rp 22.900, dan BFI Finance (BFIN) naik Rp 300 ke Rp 4.700.

Sementara saham-saham yang turun cukup dalam dan masuk dalam kategori top losers antara lain Delta Jakarta (DLTA) turun Rp 9.500 ke Rp 116.500, Mandom (TCID) turun Rp 500 ke Rp 8.000, Goodyear (GDYR) turun Rp 400 ke Rp 12.100, dan Multi Prima (LPIN) turun Rp 375 ke Rp 3.225.

Jumat, 27 Mei 2011

Cadangan Devisa RI Mencapai US$116,5 miliar per 20 Mei 2011

Derasnya aliran modal membuat cadangan devisa terus naik, hingga mencapai US$116,5 miliar per 20 Mei 2011. Jika dibandingkan posisi 29 April 2011, sebesar US$113,8 miliar maka cadangan devisa naik US$2,7 miliar (Rp23,09 triliun) dalam tiga minggu.

"Cadangan devisa per 20 Mei itu US$116,5 miliar" ujar Gubernur Bank Indonesia Darmin Nasution di BI, Jumat, 27 Mei 2011. Darmin menjelaskan pelemahan rupiah yang terjadi akhir-akhir ini belum mengkhawatirkan. Hal itu dikarenakan adanya masalah di Eropa memberikan dampak secara regional."Jangan terlalu terpengaruh dengan kejadian satu dua hari. Tendensinya masih sama, tekanan rupiah masih menguat walau tidak signifikan" ujarnya.

Sementara terkait inflasi, Darmin memprediksi bulan Mei terjadi deflasi. Namun angkanya sangat kecil, di bawah 0,1 persen. Faktor penyebabnya adalah harga bahan makanan cenderung turun, meski ada beberapa yang naik. Tekanan inflasi tahun ini masih tergolong administered price,"Di luar administered price tidak terlalu berat tekanan" ujarnya.

IHSG 27 Mei 2011 Menguat 17 Poin

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengakhiri perdagangan akhir pekan dengan menguat 17 poin didorong aksi beli di saham-saham komoditas. Sentimen bursa regional juga membantu pergerakan IHSG.

Sementara nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup menguat di Rp 8.565 per dolar AS dibandingkan penutupan kemarin di Rp 8.580 per dolar AS.

Membuka perdagangan akhir pekan, pagi tadi IHSG turun 20,379 poin (0,53%) ke level 3.794,437. Sentimen negatif dari data perekonomian AS sehingga membuat bursa-bursa di Asia berfluktuatif.

Setelah sempat terkena profit taking di awal perdagangan, dan jatuh sampai ke posisi terendah di 3.790,898, IHSG akhirnya berhasil balik arah dan naik tajam.

Perburuan saham-saham berbasis komoditas, terutama saham-saham perkebunan dan tambang melambungkan IHSG ke zona hijau dengan penguatan cukup tinggi.

Pada penutupan perdagangan sesi I, IHSG menguat tipis 8,024 poin (0,21%) ke level 3.822,840. Indeks berhasil balik arah ke zona hijau atas aksi beli selektif.

IHSG sempat mendaki ke puncak tertinggi di 3.835,456 pada perdagangan sesi II. Saham-saham berbasis agrikultur menjadi primadona perdagangan kali ini.

Menutup perdagangan akhir pekan, Jumat (27/5/2011), IHSG menguat 17,562 poin (0,46%) ke level 3.832,378. Sementara Indeks LQ 45 naik 2,418 poin (0,35%) ke level 681,295.

Hampir seluruh indeks sektoral di pasar modal berhasil menguat, kecuali sektor aneka industri yang masih terkena profit taking. Indeks agrilkultur melaju paling kencang hingga lebih dari 2%,

Perdagangan berjalan moderat dengan frekuensi transaksi mencapai 89.868 kali pada volume 3,545 miliar lembar saham senilai Rp 3,479 triliun. Sebanyak 128 saham naik, 96 saham turun, dan 104 saham stagnan.

Dana asing secara perlahan kembali masuk pasar modal dalam negeri. Transaksi investor asing tercatat melakukan pembelian bersih (foreign net buy) senilai Rp 329,801 miliar di seluruh pasar.

Bursa di Asia kembali bergerak mixed setelah siang tadi sempat seluruhnya menguat. Bursa China mencapai titik terendahnya dalam empat bulan setelah investor pesimis akibat lambatnya laju perekonomian negara tersebut.

Bursa Jepang pun mengalami hal yang serupa, yaitu terkoreksi cukup dalam. Selain mata uang yen yang menguat, pasar modal Jepang tertekan aksi jual saham Sony setelah mengumumkan kinerja triwulan I yang jauh di bawah target.

Berikut situasi di bursa-bursa regional sore hari ini:
  • Indeks Komposit Shanghai anjlok 26,90 poin (0,98%) ke level 2.709,62.  
  • Indeks Hang Seng melesat 217,28 poin (0,95%) ke level 23.118,07.  
  • Indeks Nikkei 225 terkoreksi 40,11 poin (0,42%) ke level 9.521,94.
  • Indeks Straits Times menguat 23,87 poin (0,76%) ke level 3.147,57.  
Saham-saham yang naik signifikan dan masuk dalam jajaran top gainers diantaranya Dian Swastatika (DSSA) naik Rp 2.650 ke Rp 16.350, SMART (SMAR) naik Rp 750 ke Rp 7.950, Lionmesh (LMSH) naik Rp 700 ke Rp 5.600, dan Indo Tambangraya (ITMG) naik Rp 550 ke Rp 47.650.

Sementara saham-saham yang turun cukup dalam dan masuk dalam kategori top losers antara lain Multibreeder (MBAI) turun Rp 300 ke Rp 24.700, Chandra Asri (TPIA) turun Rp 125 ke Rp 4.125, Malindo (MAIN) turun Rp 100 ke Rp 5.750, dan Hexindo turun Rp 100 ke Rp 6.400.
 
Sumber : www.detikfinance.com

Kamis, 26 Mei 2011

Kota Paling Nyaman Di Indonesia

Ikatan Ahli Perencanaan (IAP) Indonesia melakukan survei terhadap 1000 penduduk di 15 kota besar di Indonesia dari bulan Oktober 2010-Maret 2011 untuk menanyakan tingkat kenyamanan tinggal di sebuah kota. Hasilnya Yogyakarta yang menjadi kota ternyaman dengan Most Liveable City Index (MLCI) 2011 sebesar 66,52%.

Angka ini mengalahkan Jakarta yang merupakan ibukota negara Indonesia. Jakarta hanya menempati urutan 13 dari 15 kota yang disurvei oleh IAP dengan MLCI hanya sebesar 50,71%.

Menurut Sekertaris Jenderal (IAP) Bernardus Djonoputro, Penelitian ini hanya mengambil pandangan masyarakat yang tinggal di 15 kota tersebut dan mengambil sampel responen secara acak. Dalam survei itu, pertanyaan yang diajukan tidak membandingkan antara kota satu dengan kota lainnya.

"survei ini dilakukan dengan sederhana ini dengan snapshot. Tidak ada pertanyaan membandingkan, hanya menanyakan apakah kota Anda nyaman, lingkungannya gimana, transportasinya, kesehatan, dan lain-lain," jelasnya.

Dari survei ini pula, ditemukan terdapat 9 dari 15 kota yang indeks kenyamanannya di bawah rata-rata yang ditetapkan yaitu 54,26%. Hasilnya kota Medan adalah kota yang dianggap paling tidak nyaman hanya sebesar 46,67%.

"Persepsi penduduk kota Medan menyatakan bahwa kotanya berada dalam kondisi yang tidak nyaman dan jauh berada di bawah angka rata-rata indeks kota di Indonesia," ungkapnya.

Bernardus juga menyatakan, survei ini bukanlah ajang sebuah kota untuk bersaing untuk merebut penghargaan. Survei ini hanya untuk cerminan dan bahan referensi untuk membagun kotanya.

"Ini bukan award, seharusnya juga tidak perlu ada award. Ini kan jurinya masyarakat, masyrakat yang menilai. Juga untuk cerminan pemerintah daerahnya," imbuhnya.

IHSG 26 Mei 2011 Rebound 36 Poin

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil cetak rebound 36 poin menyusul aksi beli selektif investor di saham-saham blue chip, terutama saham-saham perkebunan dan bank. Membaiknya harga komoditas dunia menjadi katalis penggerak IHSG.

Sementara nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup menguat di posisi 8.580 per dolar AS dibandingkan penutupan kemarin di Rp 8.610 per dolar AS.

Mengawali perdagangan pagi tadi, IHSG dibuka menguat 13,126 poin (0,34%) ke level 3.793,288. Membaiknya situasi di pasar global dan regional membawa IHSG kembali ke level 3.800.

Indeks sama sekali tidak menyentuh zona merah sejak awal perdagangan. Aksi beli selektif investor membumbungkan indeks ke posisi tertingginya hari ini di level 3.817,117.

Pada penutupan perdagangan sesi I, IHSG melaju 28,424 poin (0,75%) ke level 3.808,586. Pulihnya harga komoditas dunia cukup memberi angin segar bagi pergerakan IHSG.

Laju penguatan IHSG sedikit tertahan di perdagangan sesi II. Meski masih konsisten di zona hijau, namun penguatannya melambat akibat profit taking investor asing.

Mengakhiri perdagangan, Kamis (26/5/2011), IHSG menanjak 34,654 poin (0,91%) ke level 3.814,816. Sementara Indeks LQ 45 naik 6,468 poin (0,96%) ke level 678,877.

Investor asing melakukan aksi ambil untung masif, tak tanggung-tanggung dana asing ratusan miliar keluar dari lantai bursa. Transaksi asing tercatat menjual bersih (foreign net sell) senilai Rp 837,507 miliar di seluruh pasar.

Meski demikian, sentimen positif bursa global serta pulihnya harga-harga komoditas tetap membuat IHSG bertahan di zona hijau. Penguatannya semakin bertambah di menit-menit akhir pedagangan.

Perdagangan berjalan moderat dengan frekuensi transaksi mencapai 120.421 kali pada volume 5,504 miliar lembar saham senilai Rp 4,5 triliun. Sebanyak 160 saham naik, 71 saham turun, dan 105 saham stagnan.

Bursa-bursa regional mulai bergerak mixed menuju penutupan perdagangan sore ini. Bursa China kembali jatuh untuk hari keenamnya secara berturut-turut. Profit taking marak terjadi seiring berlanjutnya kekhawatiran terhadap prospek ekonomi dalam negeri tirai bambu tersebut.

Berikut situasi bursa-bursa di Asia sore ini:


  • Indeks Komposit Shanghai turun 6,53 poin (0,24%) ke level 2.735,21.  
  • Indeks Hang Seng naik 153,51 poin (0,67%) ke level 22.900,79.  
  • Indeks Nikkei 225 melesat 139,17 poin (1,48%) ke level 9.562,05.  
  • Indeks Straits Times naik tipis 3,63 poin (0,12%) ke level 3.122,28.  

Saham-saham yang naik signifikan dan masuk dalam jajaran top gainers diantaranya Multi Bintang (MLBI) naik Rp 9.500 ke Rp 320.000, Petrosea (PTRO) naik Rp 3.500 ke Rp 41.000, Tembaga Mulia (TBMS) naik Rp 1.400 ke Rp 8.400, dan Astra Internasional (ASII) naik Rp 1.200 ke Rp 59.300.

Sementara saham-saham yang turun cukup dalam dan masuk dalam kategori top losers antara lain Lion Metal (LION) turun Rp 250 ke Rp 5.000, Indorama (INDR) turun Rp 200 ke Rp 3.300, Chandra Asri (TPIA) turun Rp 100 ke Rp 4.250, dan Gajah Tunggal (GJTL) turun Rp 100 ke Rp 2.950.

Jumat, 20 Mei 2011

Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Update Mei 2011

Semakin baiknya perekonomian Indonesia membuat pemerintah optimis jika pertumbuhan ekonomi pada tahun ini dapat lebih tinggi dari asumsi sebelumnya sebesar 6,4 persen. Karenanya pemerintah berminat merevisi pertumbuhan ekonomi naik sebesar 0,1 persen.

Menteri Keuangan Agus DW Martowardojo menuturkan penguatan kinerja investasi, perdagangan internasional, konsumsi pemerintah, dan konsumsi masyarakat akan membuat akselerasi pertumbuhan ekonomi 2011 lebih baik dari asumsi awal 6,4 persen di APBN 2011.

“Pemerintah optimis bahwa kinerja ekonomi 2011 akan berakselerasi paa level semakin tinggi, sebesar 6,5 persen, yang didorong oleh penguatan kinerja investasi, perdagangan internasional, konsumsi pemerintah, maupun konsumsi masyarakat,” ujar dia lewat paparannya ‘Kerangka Ekonomi Makro dan Pokok-Pokok Kebijakan Fiskal 2011’ di Jakarta,, Jumat (20/5/2011).

Dengan Pertumbuhan sebesar 6,5 persen, Agus meyakini akan menekan tingkat pengangguran terbuka menjadi 6,8 persen dan kemiskinan menjadi 11,5-12,5 persen. Selain itu, sejumlah proyeksi sejumlah faktor penyumbang pertumbuhan ekonomi 2011. Yakni konsumsi rumah tangga tumbuh 4,9 persen, konsumsi pemerintah 5,1 persen, pembentukan modal tetap bruto (PMTB) 9,5 persen, ekspor 14,1 persen, dan impor 17,3 persen.

Selain itu, ada indikasi pemerintah akan mengubah asumsi makro ekonomi 2011. Antara lain rata-rata nilai tukar sepanjang 2011 diperkirakan sekitar Rp8.800-9.000 per dolar AS, lebih kuat dibandingkan asumsi Rp9.250 per dolar AS di APBN. Terkait inflasi, pemerintah melihat trennya masih akan meningkat terus sehingga laju inflasi 2011 diperkirakan sekitar enam persen, dari sebelumnya 5,3 persen.

Untuk SBI 3 bulan, tidak lagi menjadi dasar penentuan tingkat bunga obligasi negara mengingat Bank Indonesia (BI) tidak lagi melelang instrumen moneter tersebut. sebagai gantinya, pemerintah menggunakan suku bunga surat perbendaharaan negara (SPN) 3 bulan sebagai asumsi, yang diperkirakan sepanjang 2011 berkisar 5,5-6,5 persen.

Sedangkan untuk minyak mentah Indonesia (ICP), dijelaskannya secara tidak langsung asumsi sebesar USD80 per barel dalam APBN 2011 tidak lagi relevan. Sejalan dengan tren kenaikan harga minyak dunia, pemerintah memperkirakan rata-rata ICP tahun ini akan berada di USD90-100 per barel.

Terakhir, tingkat produksi (lifting) minyak yang ditargetkan sebesar 970 ribu barel per hari (bph) dalam APBN 2011 nantinya hanya akan mencapai kisaran paling rendah 945 ribu bph. Hal ini diperkirakan karena adanya sejumlah masalah klasik yang menghambat. Antara lain, belum optimalnya sumur-sumur baru, terbatasnya investasi di sektor migas, keterbatasan peralatan dan teknologi, cuaca buruk dan perubahan iklim, serta dampak penerapan asas cabotage.

IHSG 20 Mei 2011 Menguat 13 Poin

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengakhiri perdagangan akhir pekan dengan menguat 13 poin dan mencetak rekor baru. Atas penguatan ini, IHSG semakin dekati level 3.900.

Sementara nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup menguat di posisi Rp 8.535 per dolar AS dibandingkan penutupan kemarin di Rp 8.550 per dolar AS.

Mengawali perdagangan pagi tadi, IHSG dibuka menguat tipis 3,750 poin (0,09%) ke level 3.863,560. Indeks melaju atas dorongan penguatan bursa Wall Street semalam.

IHSG kembali tembus rekor intraday tertingginya, kali ini di level 3.870,536. Posisi intraday tertinggi sebelumnya diraih IHSG kemarin pada level 3.867,268.

Setelah naik tinggi, laju penguatan IHSG sedikit tertahan oleh profit taking sehingga penguatannya sedikit terhambat dan sempat jatuh hingga ke posisi 3.855,890.

Pada penutupan perdagangan sesi I, IHSG naik tipis 5,273 poin (0,13%) ke level 3.865,083. Aksi ambil untuk terjadi di saham-saham tambang dan properti dan mneghambat laju indeks.

Aksi ambil untung tak berhenti begitu saja, pada perdagangan sesi II, IHSG sempat jatuh kembali ke zona merah. Namun, penguatan saham-saham perkebunan membuat indeks kembali menanjak.

Mengakhiri perdagangan akhir pekan, Jumat (20/5/2011), IHSG ditutup menguat 13,143 poin (0,34%) ke level 3.872,953. Sementara Indeks LQ 45 ditutup naik tipis 2,466 poin (0,35%) ke level 691,844.

Baru saja kemarin mencetak rekor, kini raihan tertinggi sepanjang sejarah IHSG kembali dipecahkan. Saham-saham berbasis agrikultur dan industri dasar memimpin kenaikkan bursa dengan menguat signifikan hingga lebih dair 1%.

Transaksi investor yang melakukan pembelian bersih (foreign nett buy) tipis senilai Rp 88,377 miliar di seluruh pasar cukup membantu pertahanan IHSG di jalur hijau.

Perdagangan berjalan moderat dengan frekuensi transaksi mencapai 90.413 kali pada volume 5,418 miliar lembar saham senilai Rp 4,868 triliun. Sebanyak 105 saham naik, 113 saham turun, dan 115 saham stagnan.

Bursa Hong Kong dan BEI menjadi bursa yang masih mampu menguat sore ini, sisa bursa regional lainnya jatuh ke teritori negatif. Bursa Jepang melemah akibat tak menentunya prospek industri energi setempat setelah Tokyo Electric power Co mengumumkan penurunan target profit full year.

Berikut kondisi bursa-bursa di Asia sore hari ini:


  • Indeks Komposit Shanghai turun tipis 1,19 poin (0,04%) ke level 2.858,38.  
  • Indeks Hang Seng naik tipis 36,01 poin (0,16%) ke level 23.199,39.  
  • Indeks Nikkei 225 melemah 13,74 poin (0,14%) ke level 9.607,08.  
  • Indeks Straits Times terkoreksi 9,61 poin (0,30%) ke level 3.162,95.  

Saham-saham yang naik signifikan dan masuk dalam jajaran top gainers diantaranya Dian Swastatika (DSSA) naik Rp 1.000 ke Rp 19.000, Astra Internasional (ASII) naik Rp 900 ke Rp 62.000, Indocement (INTP) naik Rp 650 ke Rp 24.450, dan Multibreeder (MBAI) naik Rp 550 ke Rp 17.200.

Sementara saham-saham yang turun cukup dalam dan masuk dalam kategori top losers antara lain Gudang Garam (GGRM) turun Rp 550 ke Rp 43.700, Lionmesh (LMSH) turun Rp 200 ke Rp 4.900, Asia Pacific (POLY) turun Rp 120 ke Rp 375, dan Bank Mega (MEGA) turun Rp 100 ke Rp 3.500.

Harga Emas Update 20 Mei 2011

Kontrak harga emas kembali menanjak di London. Salah satu penyebabnya, posisi dollar terhadap sejumlah mata uang utama dunia melemah sehingga memacu permintaan emas sebagai investasi alternatif. Selain itu, pasar juga berspekulasi kalau the Federal Reserve tidak akan memperketat kebijakan moneternya dalam waktu dekat.

Kemarin, Fed Bank of Chicago President Charles Evans mengatakan, perbaikan dalam perekonomian, sektor tenaga kerja, dan outlook inflasi tidak akan menjadi alasan bank sentral untuk mengurangi stimulus moneternya.

"Data yang baru saja dirilis akhir-akhir ini akan memberikan penentu kebijakan waktu sebelum akhirnya memperketat kebijakannya. Ini berarti, penurunan harga emas akan terbatas," jelas Andrey Kryuchenkov, analis VTB Capital di London.

Catatan saja, pada pukul 09.20 waktu London, kontrak harga emas untuk pengantaran cepat di London pada transaksi Comex New York naik  9,65 dollar AS atau 0,6 persen menjadi 1.503 dollar AS per troy ounce. Sepanjang minggu ini, harga emas sudah naik 0,5 persen. Sementara itu, kontrak harga emas untuk pengantaran Juni naik 0,7 persen ke posisi 1.502,50 dollar AS per troy ounce di Comex New York.

Selasa, 10 Mei 2011

IHSG 10 Mei Naik 15 Poin Pada Tanggal 10 Mei 2011

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) rebound 15 poin setelah harga minyak dunia mulai turun. Investor mulai melakukan aksi beli seiring membaiknya bursa-bursa regional sehingga IHSG kembali ke level 3.800.

Sementara nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup menguat di posisi Rp 8.550 per dolar AS dibandingkan penutupan kemarin di Rp 8.560 per dolar AS.

Membuka perdagangan pagi tadi, IHSG naik tipis 1,625 poin (0,04%) ke level 3.787,075. Sentimen negatif krisis utang Eropa yang tak kunjung usai membuat IHSG stagnan.

Pada awal perdagangan, IHSG sempat turun ke level terendahnya di 3.782,170. Tak lama kemudian, indeks secara perlahan mulai menanjak atas aksi beli selektif investor.

Hingga penutupan perdagangan sesi I, IHSG naik tipis 8,323 poin (0,21%) ke level 3.793,773. Mulai pulihnya harga komoditas dunia membuat saham-saham berbasis komoditas pun kembali diburu.

Sepanjang perdagangan sesi II, IHSG terus berjalan di zona merah dan sempat menyentuh posisi tertinginya di 3.801,500. Menguatnya bursa-bursa di Asia turut membantu pergerakan IHSG.

Menutup perdagangan, Selasa (10/5/2011), IHSG menguat 15,070 poin (0,39%) ke level 3.800,520. Sementara Indeks LQ 45 naik 2,717 poin (0,40%) ke level 677,110.

Saham-saham berbasis komoditas menjadi incaran investor pada perdagangan hari ini. Menjinaknya harga minyak dunia berpotensi meningkatkan kembali harga-harga komoditas dunia.

Mayoritas indeks sektoral di Bursa Efek Indonesia (BEI) menguat, namun masih ada beberapa yang menberatkan IHSG akibat terkoreksi di zona merah. Seperti, sektor industri dasar dan infrastruktur.

Perdagangan berjalan cukup ramai dengan frekuensi transaksi mencapai 135.965 kali pada volume 10,421 miliar lembar saham senilai Rp 5,024 triliun. Sebanyak 137 saham naik, 103 saham turun, dan 97 saham stagnan.

Giliran investor asing yang profit taking setelah pada beberapa hari sebelumnya mengakumulasi saham. Transaksi pemodal asing tercatat melakukan penjualan bersih (foreign net sell) senilai Rp 336,325 miliar di seluruh pasar.

Bursa-bursa di Asia melenggang dengan tenang di zona hijau seiring menurunnya tekanan inflasi di China. Meski demikian, sentimen krisis utang Eropa yang berkepanjangan masih membayangi regional.

Berikut kondisi bursa-bursa di regional di sore ini:
  • Indeks Komposit Shanghai naik 17,36 poin (0,60%) ke level 2.889,82.  
  • Indeks Nikkei 225 naik tipis 24,38 poin (0,25%) ke level 9.818,76.  
  • Indeks Straits Times menguat 23,85 poin (0,76%) ke level 3.160,79.  

Saham-saham yang naik signifikan dan masuk dalam jajaran top gainers diantaranya Multi Bintang (MLBI) naik Rp 10.000 ke Rp 300.000, Tembaga Mulia (TBMS) naik Rp 950 ke Rp 7.000, Indospring (INDS) naik Rp 775 ke Rp 3.875, dan Roda Vivatex (RDTX) naik Rp 575 ke Rp 3.200.

Sementara saham-saham yang turun cukup dalam dan masuk dalam kategori top losers antara lain Dian Swastatika (DSSA) turun Rp 600 ke Rp 23.200, Supreme Cable (SCCO) turun Rp 600 ke Rp 1.900, Indotambangraya (ITMG) turun Rp 500 ke Rp 47.100, dan Metro Realty (MTSM) turun Rp 330 ke Rp 1.000.

Selasa, 15 Februari 2011

10 Bank Terbesar Di Indonesia Berdasarkan Jumlah Aset Tahun 2010

Bank Indonesia (BI) mengeluarkan daftar 10 bank terbesar di Indonesia berdasarkan jumlah asetnya di 2010. Aset 10 bank tersebut berjumlah Rp 1.948,23 triliun atau 64,75% dari total aset perbankan.

Posisi bank yang menempati 10 besar ini tak banyak perubahan sejak 2009.

Berikut daftar 10 bank terbesar di Indonesia:
  1. PT Bank Mandiri Tbk dengan aset Rp 410,619 triliun (13,65% dari  seluruh total aset perbankan)
  2. PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BRI) dengan aset Rp 395,396 triliun (13,14%)
  3. PT Bank Central Asia Tbk (BCA) dengan aset Rp 323,345 triliun (10,75%)
  4. PT Bank Negara Indonesia Tbk (BNI) dengan aset Rp 241,169 triliun (8,02%)
  5. PT Bank CIMB Niaga Tbk dengan aset Rp 142,932 triliun (4,75%)
  6. PT Bank Danamon Indonesia Tbk dengan aset Rp 113,861 triliun (3,78%)
  7. PT Pan Indonesia Bank Tbk (Panin) dengan aset Rp 106,508 triliun (3,54%)
  8. PT Bank Permata Tbk dengan aset Rp 74,04 triliun (2,46%)
  9. PT Bank Internasional Indonesia Tbk (BII) dengan aset Rp 72,03 triliun (2,39%)
  10. PT Bank Tabungan Negara Tbk (BTN)  dengan aset Rp 68,334 triliun (2,27%).

Minggu, 05 Desember 2010

40 Orang Terkaya Di Indonesia 2010

Menjelang pergantian tahun, majalah Forbes kembali merilis daftar 40 orang terkaya di Indonesia pada 2010.

Pemilik Grup Djarum, R Budi dan Michael Hartono, masih nomor satu terkaya di Indonesia dengan kekayaan sekitar 11 miliar dollar AS atau sekitar Rp 100,1 triliun (kurs Rp 9.200 per dollar AS).

Kekayaan orang-orang kaya Indonesia ini pun meningkat tajam dibandingkan dengan tahun lalu. Tahun lalu kekayaan pemilik Grup Djarum ini sekitar 8 miliar dollar AS.

Secara keseluruhan, kekayaan 40 orang terkaya Indonesia ini mencapai 71 miliar dollar AS atau naik 29 miliar dollar AS dibandingkan dengan tahun lalu yang 42 miliar dollar AS.

Naiknya kekayaan para taipan Indonesia ini disebabkan harga komoditas, seperti hasil tambang batubara dan minyak sawit, yang sedang membaik.

Ini terlihat dari masuknya salah seorang taipan baru ke dalam 40 orang terkaya Indonesia ini, yaitu pengusaha tambang batubara Kiki Barki. Pemilik PT Harum Energy Tbk ini menyodok ke urutan ke-11 orang terkaya Indonesia dengan total kekayaan 1,7 miliar dollar AS.
Berikut daftar 40 orang terkaya di Indonesia 2010 versi Forbes:
1. R Budi & Michael Hartono 11 miliar dollar AS
2. Susilo Wonowidjojo 8 miliar dollar AS
3. Eka Tjipta Widjaja 6 miliar dollar AS
4. Martua Sitorus 3,2 miliar dollar AS
5. Anthoni Salim 3 miliar dollar AS
6. Sri Prakash Lohia 2,65 miliar dollar AS
7. Low Tuck Kwong 2,6 miliar dollar AS
8. Peter Sondakh 2,4 miliar dollar AS
9. Putra Sampoerna 2,3 miliar dollar AS
10. Aburizal Bakrie 2,1 miliar dollar AS
11. Kiki Barki 1,7 miliar dollar AS
12. Eddy William Katuari 1,65 miliar dollar AS
13. Edwin Soeryadjaya 1,6 miliar dollar AS
14. Boenjamin Setiawan 1,5 miliar dollar AS
15. Garibaldi Thohir 1,45 miliar dollar AS
16. Sukanto Tanoto 1,4 miliar dollar AS
17. Theodore Rachmat 1,35 miliar dollar AS
18. Chairul Tanjung 1,25 miliar dollar AS
19. Murdaya Poo 1,15 miliar dollar AS
20. Ciliandra Fangiono 1,1 miliar dollar AS
21. Benny Subianto 1,05 miliar dollar AS
22. Arifin dan Hilmi Panigoro 985 juta dollar AS
23. Sjamsul Nursalim 850 juta dollar AS
24. Agus Lasmono Suwikatmono 845 juta dollar AS
25. Kartini Muljadi 840 juta dollar AS
26. Tahir 805 juta dollar AS
27. Sandiaga Uno 795 juta dollar AS
28. Mochtar Riady 730 juta dollar AS
29. Ciputra 725 juta dollar AS
30. Hashim Djojohadikusumo 680 juta dollar AS
31. Harjo Sutanto 650 juta dollar AS
32. Trihatma Haliman 600 juta dollar AS
33. Hary Tanoesudibjo 595 juta dollar AS
34. Kusnan dan Rusdi Kirana 580 juta dollar AS
35. Wiwoho Basuki Tjokronegoro 575 juta dollar AS
36. Engki Wibowo dan Jenny Quantero 560 juta dollar AS
37. Husain Djojonegoro 545 juta dollar AS
38. Eka Tjandranegara 525 juta dollar AS
39. Sutanto Djuhar 490 juta dollar AS
40. Prajogo Pangestu 455 juta dollar AS

Sumber : kompas.com